Sekedar Nguda Rasa

#NGUDARASA
Satu bulan ke belakang saya sedang kehilangan ritme membaca.
Hubungan saya dengan buku-buku semakin berjarak. Saya jadi sulit membuat waktu khusus untuk membaca. Meskipun sengaja saya luangkan waktu untuk beli beberapa buku menarik di Gramedia atau Toga Mas, buku-buku itu akhirnya hanya bertumpukan di atas meja kerja. Membawa buku-buku itu di tas juga seringkali nggak ada gunanya, karena pekerjaan yang belum bisa disambi.
Beberapa hari lalu juga saya sempatkan waktu untuk beli buku online, hal yang jarang saya lakukan mengingat membeli buku adalah hal yang lumayan sakral buat saya. Sering banget di toko buku, setelah memastikan tidak ada orang yang melihat, saya menghirup kertas buku - semacam orang ngobat - sebelum saya pergi ke kasir. Pernah satu kali kepergok mas-mas Gramedia, tapi dia nggak bereaksi apa-apa. Mungkin sudah biasa ketemu orang serupa.

Bagi saya, membaca sepenting itu karena saya percaya betul apa kata Jac Vanek: “You are what you read”.
Kita memantulkan kembali apa yang kita serap. Dan bukan hanya bacaan, tapi juga film yang kita tonton, musik yang kita dengarkan, obrolan yang kita perbincangkan, dan pengalaman yang kita rasakan.

Saya jadi ingat obrolan dengan teman saya belum lama ini. Jadi, beberapa hari yang lalu ada teman saya datang ke rumah, ya usianya lumayan jauh di atas saya, sudah berkeluarga dan kalau saya lihat kehidupannya normal. dia masuk ke kamar saya sambil ngobrol apa saja. kemudian dia mendekati meja kerja saya, kebetulan di meja kerja saya itu banyak berserakan buku yang memang belum saya rapikan. kami masih ngobrol dan lama-lama obrolan kami menjadi panas.
Dia: "Wah mbak, bukune banyak banget, sempet ya baca buku sebanyak ini, nggak sumpek apa mbak kaya perpustakaan, kaya nggak keurus gini sih."
Saya: (dalam hati udah panas, tapi tetep senyum) "Iya, kebetulan saya suka baca, maaf ini lagi berantakan belum saya tata."
D: "Ini buku beli semua?"
S: (dalam hati bilang, ngrampok, ya iyaaalaaaah saya beli) "Ada yang beli ada yang dikasih temen" (masih sopan)
D: (mulai nerocos) "Enggak sayang sama uangnya Mba, cuma dibuat beli kertas kaya gini, udah gitu cuma menuh-menuhin tempat. coba kalo uangnya ditabung pasti sudah bisa dibelikan emas atau perhiasan, malah bisa laku dijual, harganya juga ajeg. Njenengan itu hlo mba, kurang bisa memanfaatkan uang."
S: (mulai emosi) "eehmp, saya merasa saya masih bodoh, ilmu dan pengetahuan saya minim, jadi kalau saya punya uang, saya selalu menyisihkan untuk beli buku. kalau saya sudah pintar, sudah pandai, nnti uang saya akan saya belikan perhisan atau saya buat liburan keliling dunia."
D: "(belum selesai saya ngomong, dia malah nggak terima) "Njenengan nyindir saya, saya orang bodoh tapi nggak suka baca buku, bla bla blaaaaaa" (males ngedengernya)

Intinya, baru kali ini say ketemu sama orang yang sebegitunya, apa-apa hanya diukur pake uang dan barang-barang yang "Ketok". padahal buat saya, buku itu adalah barang yang sangat berhaga, lebih dari perhiasan. Ilmu dan pemahaman yang kita dapat lebih dar sekedar bisa pake perhiasan mewah.
pantas saja pemikiran teman saya sebatas itu, hla wong liat buku saja sudah anti, apalagi buat baca.
nggak cocok kalau berseragam necis dan mentereng tapi pemahamannya nol..
heee,,

Umpama klasik mengatakan buku sebagai jendela dunia; tapi bagi saya buku lebih dari itu. Buku adalah kumpulan ide, dan ide bekerja seperti virus. Sekali hinggap di tubuh makhluk hidup, virus bisa mereplikasi dirinya sendiri tanpa bisa kita awasi.
Memahami karakter ide dan bagaimana otak kita meresponnya harusnya menjadi kesadaran awal kita untuk menentukan buku apa yang ingin kita baca dan ide apa yang ingin kita pelihara.
Karena sekali ide berputar di kepala, dia akan terus berputar di sana.
Selamanya.
Note. maaf untuk teman saya yang (mungkin) membaca postingan saya, bukan berniat menyindir, ini saya hanya nguda rasa alias curhat.

Komentar

Postingan Populer